Deskripsi Mata Kuliah

Sosiologi Agama bersandar pada dua konsep utama, yaitu sosiologi dan agama. Dalam kamus Collin's Dictionary of Sociology (David Jary and Julia Jary, Collins Dictionary of Sociology,Glasgow : Harper Collin, 1991), dua konsep utama tersebut dijelaskan secara singkat sebagai; Sociology; the term has gained a far wider currency to refer to the systematic study of the funcioning, organization, development, and types of human societies. Religion; the beleif in spiritual beings and the institutions and practices associated with these beliefs. Sedangkan Sociology of Religion dijelaskan: the branch of sociology which deaals with religious phenomena. Historically, the sociological analysis of religion was central in the analysis of most of the leading classical sociologist, notably weber and durkheim. The ideas of these two theorist still constitute the core of the sociology of religion. Durkheim's work was concerned with the role of religion as funcional universal contributing to the integration of society. This remains the foundation of the funcionalist theory of religion. Weber's concern was with the comparative analysis of the varying forms of religion beleif and religious organization, and the implications of these for the development of rationality and for social change. Prion of the work of weber and durkheim, the sociology of religion had viewed religion simply as error, or it had speculated about the origin of religion and the stage of evolutionary development. Singkatnya, agama dalam paradigma sosiologi tidak dipahami sebagai wahyu yang datang dari Tuhan melainkan dari proses eksperiensi atau pengalaman konkret sehari-hari yang dialami para pemeluknya. Sosiologi mendefinisikan agama secara empiris dan deskriptif yang mengungkapkan apa yang dimengerti dan dialami para pemeluknya. Dengan pengertian ini, agama tidak dbicarakan dalam hal hakekat dan baik-buruknya.

Sasaran langsung (obyek material) sosiologi umum menempatkan masyarakat sebagai obyek materialnya. Masyarakat dilihat dari sudut hubungan antar manusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat. Masyarakat didefinisikan secara beragam, namun umumnya menunjuk pada kelompok manusia yang bercampur dalam waktu yang lama dan berkesadaran menjadi suatu sistem dari kebiasaan dan tata cara yang terikat satu dengan lainnya. Sosiologi Agama lebih spesifik menangani masyarakat agama, yaitu suatu persekutuan hidup yang unsur konstitutif utamanya adalah agama atau nilai-nilai keagamaan. Sebagaimana masyarakat pada umumnya, masyarakat agama terdiri dari komponen-komponen konstitutif misalnya kelompok-kelompok keagamaan dan institusi-institusi keagamaan. Masyarakat agama dilihat dari sudut struktur dan fungsinya yang dari keduanya akan digunakan untuk memotret pengaruh-pengaruhnya dalam masyarakat. Pengaruh-pengaruh yang dimungkinkan timbul misalnya stratifikasi baru dalam masyarakat agama, kelompok-kelompok keagamaan, dan perubahan-perubahan baik yang positif maupun negatif (kerukunan agama dan konflik agama). Masyarakat agama tidak memposisikan agama sebagai suatu sistem ajaran yang harus dikaji dan diamalkan melainkan proses perwajahan agama dalam masyarakat. Agama menjelama menjadi bentuk-bentuk kemasyarakatan yang nyata atau sebagai fenomena sosial dan fakta sosial yang dapat disaksikan dan dialami oleh banyak orang.

Sudut Pendekatan (Obyek Formal) sosiologi agama berbeda dengan disiplin ilmu lain. Teologi misalnya mempelajari agama dan masyarakat dari sudut “supraempiris”, atau psikologi agama yang melihat implikasi agama bagi perkembangan manusia secara pribadi. Sosiologi agama mempelajari agama dari sudut empiris-sosiologis. Dimensi sosiologis agama ingin mengetahui sejauh mana nilai dan ajarannya mampu berpengaruh terhadap eksistensi dan operasi masyarakat.

Standar Kompetensi

Mahasiswa mampu menyimpulkan hubungan agama dengan realitas sosial untuk mengembangkan sikap-sikap intelektual secara kritis di masyarakat.