Mata kuliah Akhlak dan Tasawuf ini, sesungguhnya penggabungan 2 (dua) disiplin, yaitu Akhlak dan Tasawuf. Risalah Nabi Muhammad itu menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia. Ini menunjukkan bahwa sebetulnya penduduk Makkah, di mana Rasul hidup di tengah mereka sebelum hijrah ke Yatsrib, sudah berakhlak, namun belum sempurna. Agama Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad, dijadikan dasar yang kokoh, dalam mewujudkan hubungan manusia dengan Allah (vertikal) dan hubungan manusia dengan sesama manusia dan makhluk lainnya (horizontal).

Obyek material atau sasaran langsung adalah manusia. Dalam hubungan sehari-harinya, manusia justru lebih banyak menghabiskan dan memanfaatkan waktunya dalam berinteraksi dengan sesama makhluk, terutama insani (horizontal). Sungguhpun begitu, seorang mu’min wajib menyisihkan waktunya dalam mengejawantahkan naluri kepatuhannya dengan melakukan hubungan dengan Allah (vertikal – mahdlah). Karena semua tindak tanduk manusia, di samping dinilai baik buruk dan benar salah oleh manusia, sebagai pertanggungjawaban di dunia, nantinya juga dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah.

Sedangkan tasawuf itu merupakan tidak lanjut akhlak. Karena tujuan tasawuf, pelaku merasa dapat berhubungan langsungatau berkomunikasi langsung dengan Allah, maka seorang mu’min wajib ber-akhlak al-karimah terlebih dahulu. Oleh karena itu, dalam bertasawuf, pelaku cenderung mendahulukan hubungannya dengan Allah. Karena kehidupan di akhirat nanti, tidak saja lebih baik, tapi juga lebih abadi.

Obyek pembahasan Akhlak dan Tasawuf sama, yaitu perbuatan atau tingkah laku mu’min. Tentunya diharapkan agara mahasiswa ber-akhlak al-mahmudah. Sedangkan Tasawufnya, minimal berusaha membersihkan hati untuk menuju pada sifat-sifat yang melekat pada Allah.